Sekarang ini aku sedang bekerja sebagai faculty/pengajar di CEP-CCIT Fakultas Teknik UI Depok. Kemarin aku ambil cuti, karena beberapa mahasiswa [student] berencana jalan-jalan sama-sama ke Dunia Fantasi [Dufan]. Ternyata seru juga setelah sekian lama tidak ke sana. Buat kenang-kenangan, aku masukkan ke blog ini.
Aku sampai di Kantek, Kantin Teknik, sekitar jam 8.30. Beberapa student sudah muncul, ngobrol dan makan-makan. Kebanyakan dari kita bawa tas berisi bekal minum atau makan, karena konon kabarnya barang-barang tersebut harganya mahal banget di Dufan. Lalu setelah semuanya kumpul dan siap, kita berangkat menuju Ancol dengan 1 mobil dan beberapa motor. Total 10 orang termasuk aku sendiri. Kalau diabsen, yang naik motor: Iqbal & Rio, Rosian & Adi, Soebarkah & Wendri. Lalu yang di mobil ada Nindhie, Deswitha dan Karina, plus aku sebagai supir [siapa kenek? :P]. Jalan ternyata agak macet, mobilnya sampai sekitar jam 11-an kurang di Ancol. Janjian ketemunya di gerbang utama. Tapi sempat nyasar waktu cari gerbang utamanya, soalnya kita masuk dari gerbang samping [timur kalau tidak salah].
Setelah kumpul semua dan beres-beres, kita sempat jalan-jalan sebentar. Loket tiket Dufan buka jam setengah 2, jadi rencananya kita beli tiket setelah sholat Jumat. Sementara menunggu beberapa orang sholat Jumat, kita cari cemilan, dan akhirnya makan A&W di tepi pantai. Suasananya asyik. Duduk di tepi pantai sambil nyemil dan ngobrol-ngobrol. Anginnya ok plus pemandangannya bagus. Lalu sekitar jam 1-an, sebelum kita benar-benar keasyikan sampai ketiduran, kita jalan balik ke tempat beli tiket.
Di sana kita kumpul semua lagi. Tempat jual tiketnya dibuka dan langsung diserbu massa ramai banget. Jujur sudah lama sekali tidak ke Dufan. Agak kaget juga melihat tempat jual tiketnya yang dulu seperti box kayu tempat bayar parkir mobil, sekarang sudah seperti tempat beli tiket bioskop yang dengan kaca dan mikrofon itu. Dulu masih ada tipe-tipe karcis yang terusan itu, tapi sekarang sudah tidak ada. Setelah kumpulkan uang, antri [aku dan Adi jadi calo] dan dapat tiket, kita masuk ke Dufan.
Wahana pertama yang kita datangi adalah... Toilet :P. Setelah puas, baru kita cari wahana lain. Setelah ngobrol bentar, diputuskan pertama kita naik Halilintar.
Gambar 1. HalilintarAntrinya sempat macet karena Halilintar-nya masih dalam tes awal, keretanya diputar beberapa kali dulu sebelum penumpang pertama naik. Pas naik, aku duduk di sebelah Iqbal. Jujur awalnya tidak rencana teriak. Tapi karena kebanyakan penumpang lain teriak dan situasinya mendukung, aku ikutan teriak-teriak [masih tidak mau ngaku]. Tapi jujurnya, teriak-teriak asyik juga. Soalnya biasa di kantor kan musti formal, jaga image, etc, sedangkan di sini asyik-asyik aja.
Wendri menganjurkan kalau kita musti coba naik Kicir-kicir dan Tornado karena lebih seru lagi katanya. Kicir-kicir, yang modelnya seperti cakar/tangan robot, diputar-putar. Seingat aku wahana ini belum ada ketika terakhir kali aku ke sini. Pertama-kali melihat, aku bengong ternganga melihat kursi yang diputar-putar dengan kemiringan 90 derajat, ditambah lagi kursi yang menempel pada sumbu-sumbunya juga bebas terputar-putar. Adi dan Deswitha memutuskan tidak ikut serta karena terlihat mengerikan. Iqbal membawa handycam, jadi Adi memegang handycam dan merekam waktu kita bermain.
Gambar 2. Kicir-kicirSetelah menitipkan tas, kita antri. Ngerinya, ketika kita antri, mendadak ada suara sesuatu di dekat kita, terjatuh dari atas. Ternyata ada jepitan rambut yang terpental akibat putaran wahana tersebut di atas. Tambah ngeri beneran -_-. Ketika kita naik, aku masih pakai kacamata karena memang kacamataku menjepit cukup kencang, jadi aku cuek-cuek saja. Tapi ternyata selagi seru diputar-putar di atas sambil teriak-teriak, terasa kacamata mulai ngambang. Celaka. Di akhir wahana, kacamatanya aku pegang di tangan. Pelajaran barusan, tidak semua wahana perlu pengelihatan yang jelas. Mendingan melihat tidak jelas sedikit waktu naik wahana, dibandingkan melihat jelas setengah wahana dan tidak jelas sampai akhir hari :P. Secara umum, Kicir-kicir ini seru dan fun, tapi sebaiknya jangan setelah makan.
Wahana yang paling baru di Dufan adalah Tornado. Kita menuju ke sana selanjutnya. Sama ketika melihat kicir-kicir pertama kali, aku juga bengong serupa melihat yang ini. Kalau dibayangkan sekilas, kita duduk di sederet kursi, kemudian seperti jemuran dibilas dengan semprotan air sambil diputar-putar vertikal sampai 900 derajat putaran lebih supaya kotoran hilang. Coba lihat video di YouTube tentang Tornado ini:
video 1 dan
video 2.
Gambar 3. TornadoIqbal sempat mengukur lamanya, ternyata 1 sesi menghabiskan waktu sekitar 3 menit lebih. Untuk yang ini, Iqbal, Rio dan Rosian memilih tidak ikut dan merekam dari bawah. Dari pengalaman sebelumnya, aku menitipkan kacamata dalam tas kepada mereka. Setelah antri panjang dan naik, ternyata memang seru. Walaupun pas giliran kita airnya sedang habis [tidak ada semprotan air], tapi rasanya tetap asyik. Jujurnya sih, yang sebelumnya, Kicir-kicir, terasa lebih diputar-putar daripada yang ini. Tapi yang ini terasa lebih fun.
Selesai diputar-putar, akhirnya kita makan juga. Dibahas sedikit, diputuskan kita makan di McD. Ramai sekali, sampai kita susah cari tempat duduk. Tidak terbayang jika kita datang ketika hari libur [pasti lebih ramai lagi]. Perut kenyang, kita siap putar-putar lagi.
Setelah mampir ke Musholla untuk sholat, kita lanjut naik Bom-bom car. Sebelum mulai, kita bercanda mengenai siapa yang diincar :P. Asyik dan entah mengapa, 3 menit itu terasa cepat sekali waktu bermain.
Kemudian kita masuk ke Arung Jeram, sejenis perahu berbentuk lingkaran melalui sungai yang deras. Benar-benar malang, entah kenapa kita tersiram cukup banyak. Aku sendiri merata basah seluruh celana, baju sih aman karena pakai jaket kedap air. Lucunya ketika naik itu, kita repot mengangkat tas agar tidak basah XD. Tanggung basah sekalian, lanjut Niagara yang kebetulan agak sepi. Kalau waktu Arung Jeram bagian bawah yang basah, sekarang naik Niagara, bagian atas yang basah akibat luncuran terakhir menuju air [masuk ke mulut pula karena teriak :P]. Sekitar wahana ini, aku merasa suara aku sudah habis / serak-serak karena teriak-teriak dari tadi.
Bingung mau naik apa, kita tertarik mencoba Alap-alap [sejenis jet coaster] yang kabarnya Roy [student lain] naiki 19 putaran. Seingat aku biasanya diputar sekitar 3 putaran, tapi karena sudah malam dan agak sepi, kita diputar 5/6 putaran. Walaupun tidak seekstrim Halilintar, ternyata ada sekitar dua belokan yang cukup parah, dan akhirnya jadi teriak-teriak juga biar seru.
Karena sudah hampir jam setengah 8 dan Dufan tutup jam 8, terakhir kita naik Bianglala untuk lihat-lihat pemandangan. Baru tahu juga bahwa Iqbal dan Rosian ada sedikit phobia ketinggian. Walaupun begitu, sambil kita ngobrol, Iqbal merekam pemandangan yang terlihat dari atas, lampu-lampu wahana lain di Dufan, juga pemandangan kota sekitar. Nanti kalau dapat gambarnya aku edit post ini.
Setelah selesai, Dufan sudah mau tutup. Kita mengunjungi wahana terakhir yang sama dengan pertama tadi, yaitu Toilet. Sambil menunggu, kita melihat-lihat hasil rekaman handycam tadi. Nanti aku akan minta copy video yang direkam Iqbal itu untuk kenang-kenangan.
Ketika menuju tempat parkir, ada beberapa penjual bando bertanduk merah menyala yang pernah dipakai Nindhie/Karina dulu di kelas. Setelah konsultasi harga, akhirnya dibeli juga. Rencananya sih buat adikku, walaupun sempat terbayang juga apa jadinya kalau aku masuk kelas pakai itu :P. Kita juga sempat diajak Deswitha mampir ke toko merchandise buat oleh-oleh, sekalian beli boneka lumba-lumba buat tambahin koleksi adikku.
Selesailah kunjungan ke Dufan kali ini. Ternyata walaupun suara habis teriak-teriak dan capek, seru dan asyik pergi ramai-ramai seperti ini. Thank you banget buat semua yang ikut main-main dan sampai ketemu lagi semester depan.